Edukasi 01 November 2026 YPC Research
BAGIKAN

Analisis Keuangan NCKL Kuartal III 2026: Pendapatan Tumbuh 19,93%, Laba Bersih Naik 34,80%

LAPORAN RISET SAHAM

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) | Periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026

Ringkasan Eksekutif

NCKL mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih selama sembilan bulan pertama 2026. Pendapatan konsolidasian mencapai Rp26,87 triliun, sementara laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp8,69 triliun. Namun, kenaikan beban pokok penjualan yang lebih cepat daripada pertumbuhan pendapatan menyebabkan laba bruto turun 8,56%. Peningkatan kontribusi laba entitas asosiasi menjadi salah satu faktor penting yang menopang pertumbuhan laba konsolidasian.

1. Pertumbuhan Ekosistem Nikel dan Kinerja Keuangan

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) merupakan perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan. Sepanjang sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026, perusahaan membukukan pertumbuhan pendapatan konsolidasian dan peningkatan laba bersih.

Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian Interim yang disetujui untuk diterbitkan oleh Direksi pada 30 Oktober 2026, pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan volume penambangan nikel, optimalisasi fasilitas pengolahan High-Pressure Acid Leach (HPAL) dan Rotary Kiln-Electric Furnace (RKEF), serta kenaikan kontribusi laba dari entitas asosiasi strategis.

Pendapatan usaha NCKL mencapai Rp26,87 triliun pada 9M 2026, meningkat 19,93% dibandingkan Rp22,40 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Total laba periode berjalan konsolidasian juga naik 34,35%, dari Rp9,02 triliun menjadi Rp12,11 triliun.

Pendapatan 9M 2026

Rp26,87 T

+19,93% YoY

Laba Bersih Pemilik Induk

Rp8,69 T

+34,80% YoY

Laba Bruto

Rp6,74 T

-8,56% YoY

Laba per Saham

Rp137,96

+34,91% YoY

Laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp8,69 triliun. Sementara itu, total penghasilan komprehensif yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp11,04 triliun, naik dari Rp7,22 triliun pada 9M 2025.

Perbandingan Kinerja Keuangan 9M 2026 vs. 9M 2025

Indikator Keuangan 9M 2026 9M 2025 Pertumbuhan
Penjualan dan pendapatan usaha Rp26.868.299 juta Rp22.402.580 juta +19,93%
Beban pokok penjualan Rp20.125.012 juta Rp15.028.031 juta +33,92%
Laba bruto Rp6.743.287 juta Rp7.374.549 juta -8,56%
Bagian laba entitas asosiasi Rp4.445.597 juta Rp2.740.524 juta +62,22%
Total laba periode berjalan Rp12.112.914 juta Rp9.015.523 juta +34,35%
Penghasilan komprehensif pemilik induk Rp11.037.247 juta Rp7.224.265 juta +52,78%
Laba bersih pemilik induk Rp8.689.913 juta Rp6.446.724 juta +34,80%
Laba per saham dasar Rp137,96 Rp102,26 +34,91%

Peningkatan laba tersebut turut mendorong kenaikan laba per saham dasar atau basic earnings per share dari Rp102,26 pada 9M 2025 menjadi Rp137,96 pada 9M 2026.

Poin penting: Pertumbuhan laba bersih NCKL lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatannya. Namun, penurunan laba bruto menunjukkan bahwa kenaikan biaya produksi perlu diperhatikan. Kontribusi entitas asosiasi menjadi faktor penting dalam membaca kualitas pertumbuhan laba perusahaan.

2. Beban Pokok Penjualan dan Dampak Royalti Pertambangan

Beban pokok penjualan konsolidasian NCKL meningkat 33,92% menjadi Rp20,13 triliun pada 9M 2026, dibandingkan Rp15,03 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini dipengaruhi oleh meningkatnya biaya produksi langsung dan penyesuaian regulasi royalti pertambangan.

Rincian komponen biaya produksi dan operasional utama berdasarkan naskah laporan adalah sebagai berikut.

Komponen Biaya 9M 2025 9M 2026
Bahan baku Rp4.222.121 juta Rp5.523.679 juta
Bahan bakar Rp3.884.573 juta Rp4.973.042 juta
Biaya pertambangan langsung Rp1.379.499 juta Rp3.191.041 juta
Tenaga kerja langsung Rp1.686.066 juta Rp2.129.999 juta
Royalti pemerintah Rp951.406 juta Rp2.431.859 juta

Kenaikan Biaya Produksi

Bahan baku dan bahan bakar. Beban bahan baku naik dari Rp4,22 triliun menjadi Rp5,52 triliun, sedangkan biaya bahan bakar meningkat dari Rp3,88 triliun menjadi Rp4,97 triliun. Peningkatan tersebut sejalan dengan bertambahnya aktivitas pengolahan dan penggunaan alat berat.

Biaya pertambangan langsung. Biaya ini meningkat dari Rp1,38 triliun menjadi Rp3,19 triliun, seiring ekspansi volume ekstraksi bijih nikel dan pengangkutan hasil tambang.

Tenaga kerja langsung. Beban gaji dan imbalan kerja langsung naik dari Rp1,69 triliun menjadi Rp2,13 triliun.

Royalti Pemerintah Menjadi Perhatian

Berdasarkan naskah laporan, Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2025 berlaku efektif sejak 11 April 2025 dan menggantikan PP No. 26 Tahun 2022. Tarif royalti yang disebutkan berada pada kisaran 14% hingga 19%, bergantung pada Harga Mineral Acuan (HMA).

Pada 9M 2026, beban royalti pemerintah yang dicatat dalam beban pokok penjualan mencapai Rp2,43 triliun, meningkat dari Rp951,41 miliar pada 9M 2025.

Risiko margin: Beban pokok penjualan tumbuh 33,92%, lebih cepat daripada pendapatan yang tumbuh 19,93%. Akibatnya, laba bruto turun 8,56% menjadi Rp6,74 triliun. Perkembangan biaya produksi, royalti, dan harga jual produk nikel menjadi faktor penting untuk dipantau pada periode berikutnya.

Di sisi lain, beban penjualan, umum, dan administrasi tercatat Rp979,13 miliar pada 9M 2026, dibandingkan Rp870,16 miliar pada 9M 2025. Nilai tersebut setara sekitar 3,64% dari pendapatan usaha periode berjalan.

3. Kinerja Segmen Penambangan dan Pengolahan Nikel

NCKL mengelola kegiatan operasional melalui dua segmen utama, yaitu penambangan nikel dan pengolahan nikel. Integrasi vertikal kedua segmen ini ditujukan untuk mendukung kesinambungan pasokan bahan baku dan kegiatan pemrosesan.

Segmen Operasi 9M 2026 9M 2025 Perubahan
Pengolahan nikel Rp16.107.295 juta Rp17.172.784 juta -6,20%
Penambangan nikel Rp10.761.004 juta Rp5.229.796 juta +105,76%
Eliminasi transaksi antarsegmen (Rp3.940.155 juta) (Rp2.000.000 juta) Eliminasi transaksi internal
Total pendapatan konsolidasian Rp26.868.299 juta Rp22.402.580 juta +19,93%

Penambangan Nikel Tumbuh Lebih dari Dua Kali Lipat

Segmen penambangan nikel mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 105,76% menjadi Rp10,76 triliun. Peningkatan ini didukung oleh ekspansi volume penjualan bijih nikel ke pasar domestik serta peningkatan pasokan internal ke entitas anak dan entitas asosiasi.

Pendapatan Pengolahan Nikel Mengalami Koreksi

Segmen pengolahan nikel membukukan pendapatan Rp16,11 triliun, turun 6,20% dari Rp17,17 triliun pada 9M 2025. Segmen ini berkontribusi sekitar 59,96% dari total pendapatan sebelum eliminasi transaksi antarsegmen.

Aktivitas pengolahan meliputi pengeringan bijih, peleburan (smelting), converting, dan granulasi untuk menghasilkan feronikel serta bahan baku baterai kendaraan listrik.

4. Entitas Asosiasi Menjadi Penggerak Pertumbuhan Laba

Salah satu faktor utama yang menopang peningkatan laba NCKL adalah kenaikan kontribusi laba entitas asosiasi yang dicatat menggunakan metode ekuitas. Bagian atas laba entitas asosiasi naik 62,22%, dari Rp2,74 triliun pada 9M 2025 menjadi Rp4,45 triliun pada 9M 2026.

Bagian Laba Entitas Asosiasi

Rp4,45 triliun

Naik 62,22% dibandingkan 9M 2025

PT Halmahera Persada Lygend (HPL)

NCKL memiliki 45,10% saham HPL, perusahaan yang mengembangkan fasilitas HPAL untuk memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). HPL menyumbangkan bagian laba sebesar Rp1,85 triliun pada 9M 2026, naik dari Rp1,49 triliun pada 9M 2025.

Pada September 2026, HPL membagikan dividen kas sebesar US$30 juta. Berdasarkan persentase kepemilikannya, NCKL menerima hak dividen sebesar US$13,53 juta.

PT Karunia Permai Sentosa (KPS)

NCKL memiliki 35% saham KPS. Kontribusi laba KPS kepada NCKL meningkat dari Rp287,77 miliar pada 9M 2025 menjadi Rp1,31 triliun pada 9M 2026, seiring dimulainya operasi komersial smelter baru.

Total pendapatan KPS juga meningkat signifikan, dari Rp8,36 triliun menjadi Rp27,90 triliun.

PT Obi Nickel Cobalt (ONC)

NCKL memiliki 40% saham ONC setelah menambah investasi sebesar 20% pada Juni 2025 senilai US$262,91 juta atau setara Rp4,25 triliun dari PT Harita Jayaraya.

ONC menyumbangkan bagian laba sebesar Rp1,27 triliun pada 9M 2026, meningkat dari Rp948,92 miliar pada 9M 2025. Total pendapatan ONC mencapai Rp14,59 triliun.

Entitas Asosiasi Kepemilikan NCKL Bagian Laba 9M 2026
HPL 45,10% Rp1.847.445 juta
KPS 35,00% Rp1.312.691 juta
ONC 40,00% Rp1.266.057 juta

Nilai tercatat investasi NCKL pada entitas asosiasi meningkat dari Rp23,68 triliun pada 31 Desember 2025 menjadi Rp29,32 triliun per 30 September 2026. Perseroan juga mencatatkan bagian penghasilan komprehensif lain dari entitas asosiasi sebesar Rp1,82 triliun.

Hal yang perlu dicermati: Kontribusi entitas asosiasi menjadi bagian penting dari pertumbuhan laba NCKL. Karena itu, investor perlu membedakan laba yang berasal dari operasi langsung perusahaan dan bagian laba entitas asosiasi ketika mengevaluasi keberlanjutan kinerja.

5. Struktur Keuangan, Likuiditas, dan Arus Kas

Ekuitas dan Posisi Keuangan

Total ekuitas konsolidasian NCKL meningkat dari Rp46,76 triliun pada 1 Januari 2026 menjadi Rp55,99 triliun per 30 September 2026.

Ekuitas yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp47,00 triliun. Nilai tersebut didukung saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp25,09 triliun, naik dari Rp19,09 triliun pada awal tahun, serta cadangan penghasilan komprehensif lain sebesar Rp4,97 triliun.

Kepentingan nonpengendali tercatat sebesar Rp8,99 triliun.

Kas dan Setara Kas

Saldo kas dan bank konsolidasian mencapai Rp6,13 triliun pada 30 September 2026, relatif stabil dibandingkan Rp6,02 triliun pada akhir 2025.

Komponen Arus Kas Nilai / Keterangan 9M 2026
Penerimaan kas dari pelanggan Rp26.158.378 juta
Pembayaran kepada pemasok Rp16.167.347 juta
Pembayaran royalti Rp2.550.845 juta
Kas neto dari aktivitas operasi Rp3.864.443 juta
Penambahan investasi entitas asosiasi Rp247.136 juta
Perolehan aset tetap Rp387.982 juta
Penerimaan dividen dari entitas asosiasi Rp237.262 juta
Pencairan utang bank jangka pendek Rp1.072.455 juta

Arus kas operasi. Kas neto dari aktivitas operasi mencapai Rp3,86 triliun setelah penerimaan kas dari pelanggan dikurangi pembayaran kepada pemasok dan royalti.

Arus kas investasi. Pengeluaran investasi mencakup penambahan investasi entitas asosiasi sebesar Rp247,14 miliar dan perolehan aset tetap sebesar Rp387,98 miliar. Perusahaan juga menerima dividen dari entitas asosiasi sebesar Rp237,26 miliar.

Arus kas pendanaan. NCKL mencatat pencairan utang bank jangka pendek sebesar Rp1,07 triliun melalui fasilitas perbankan, antara lain dari PT Bank OCBC NISP Tbk dan PT Bank UOB Indonesia. Perseroan juga menyelesaikan kewajiban pembayaran dividen kas untuk tahun buku 2025.

6. Pelanggan Utama dan Transaksi Pihak Berelasi

Strategi komersial NCKL menggabungkan penjualan kepada pelanggan internasional dan pasokan bijih nikel kepada pabrik pengolahan yang memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan.

Pelanggan Pihak Ketiga Utama

Sejumlah pelanggan pihak ketiga memberikan kontribusi lebih dari 10% terhadap total pendapatan usaha NCKL pada 9M 2026.

Pelanggan Pendapatan Kontribusi
Glencore International AG (Swiss) Rp5.972.963 juta 22,23%
Lygend Resources & Technology Co., Ltd. (Tiongkok) Rp3.976.530 juta 14,80%
Minmetals North-Europe Aktiebolag (Swedia) Rp2.792.006 juta 10,39%
Ningbo Lygend Wisdom Co., Ltd. (Tiongkok) Rp2.768.408 juta 10,30%

Glencore International AG menjadi pelanggan terbesar dengan kontribusi 22,23% terhadap pendapatan konsolidasian, naik dari 15,70% pada 9M 2025.

Transaksi dengan Pihak Berelasi

Penjualan dan pendapatan dari pihak berelasi mencapai Rp10,58 triliun atau 39,37% dari total pendapatan konsolidasian. Transaksi tersebut terutama berasal dari pasokan bijih nikel kepada entitas asosiasi.

Entitas Jenis Transaksi Nilai
PT Karunia Permai Sentosa (KPS) Penjualan bijih nikel dan sewa alat berat Rp5.718.184 juta
PT Obi Nickel Cobalt (ONC) Penjualan bijih nikel Rp2.469.628 juta
PT Halmahera Persada Lygend (HPL) Penjualan bijih nikel Rp2.391.177 juta

Piutang usaha pihak berelasi mencapai Rp2,29 triliun per 30 September 2026. Rinciannya meliputi KPS sebesar Rp1,76 triliun, ONC sebesar Rp270,40 miliar, dan HPL sebesar Rp264,32 miliar. Berdasarkan naskah laporan, manajemen menyatakan tidak terdapat indikasi penurunan nilai kredit atas piutang tersebut.

Aspek yang perlu diperhatikan: Konsentrasi pelanggan dan besarnya transaksi pihak berelasi merupakan faktor yang relevan untuk menilai risiko komersial NCKL. Investor dapat memantau perubahan komposisi pelanggan, syarat transaksi, dan kualitas penagihan piutang pada laporan berikutnya.

7. Produksi Tambang, Pemegang Saham, dan Aksi Korporasi

Struktur Pemegang Saham

Susunan pemegang saham NCKL per 30 September 2026 berdasarkan naskah laporan adalah sebagai berikut.

Pemegang Saham Jumlah Saham Kepemilikan
PT Harita Jayaraya 50.344.432.000 79,79%
Glencore International Investment Ltd 3.958.795.700 6,27%
PT Citra Duta Jaya Makmur 551.010.000 0,87%
Masyarakat dan lainnya 8.133.629.000 12,89%
Saham treasuri 110.733.300 0,18%

PT Harita Jayaraya merupakan pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 79,79% berdasarkan angka yang tercantum dalam naskah laporan.

Volume Produksi Bijih Nikel

NCKL bersama entitas anak memiliki Izin Usaha Pertambangan (IUP) Operasi Produksi di Kawasi, Loji, serta Fluk dan Gambaru. Produksi bijih nikel konsolidasian mencapai 20,18 juta wet metric tonnes (wmt) pada 9M 2026, naik 26,28% dari 15,98 juta wmt pada 9M 2025.

Produksi 9M 2026

20,18 juta wmt

+26,28% YoY

Akumulasi Produksi

90,51 juta wmt

Sejak awal eksploitasi hingga 30 September 2026

PT Gane Permai Sentosa (GPS). Produksi GPS mencapai 6,79 juta wmt pada 9M 2026, meningkat dari 6,11 juta wmt pada 9M 2025. Akumulasi produksi eksploitasi GPS tercatat sebesar 41,25 juta wmt.

PT Gane Tambang Sentosa (GTS). Produksi GTS meningkat menjadi 3,73 juta wmt pada 9M 2026, dibandingkan 1,61 juta wmt pada periode sebelumnya. Akumulasi produksinya mencapai 6,33 juta wmt.

Akumulasi produksi bijih nikel NCKL sejak awal kegiatan eksploitasi hingga 30 September 2026 mencapai 90,51 juta wmt. Berdasarkan laporan Competent Persons Indonesia (CPI) per 1 Agustus 2025, sisa cadangan bijih nikel di IUP Kawasi tercatat 84,21 juta wmt dari total cadangan 92,40 juta wmt.

Pembagian Dividen Kas

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 30 Juni 2026 menyetujui penggunaan laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp8,95 triliun dengan alokasi sebagai berikut.

Dividen Kas

Rp2,69 triliun

30% dari laba bersih atau Rp42,64 per saham, berdasarkan naskah laporan.

Cadangan Wajib

Rp18 miliar

Dialokasikan sebagai cadangan umum sesuai Pasal 70 UU No. 40 Tahun 2007.

Laba Ditahan

Sisa laba dicatat sebagai saldo laba ditahan untuk mendukung kegiatan operasional dan pengembangan modal kerja.

Dividen kas yang dialokasikan sebesar Rp2.685.803 juta atau Rp42,64 per saham direncanakan untuk dibagikan kepada 62.987.866.700 saham beredar sesuai informasi dalam naskah.

Program Pembelian Kembali Saham (Buyback)

RUPST pada 30 Juni 2026 juga menyetujui program pembelian kembali saham dengan dana maksimal Rp1 triliun dalam jangka waktu 12 bulan.

Sampai dengan 30 September 2026, perusahaan telah merealisasikan pembelian 110.733.300 saham treasuri dengan total biaya perolehan Rp75,74 miliar.

8. Implikasi Strategis dan Prospek Usaha NCKL

Kinerja keuangan NCKL hingga kuartal III 2026 memperlihatkan pertumbuhan pendapatan dan laba konsolidasian di tengah kenaikan biaya produksi serta royalti pertambangan. Beberapa faktor strategis berikut dapat menjadi bahan evaluasi dalam menilai perkembangan bisnis perusahaan.

01. Integrasi Bisnis dari Hulu ke Hilir

Integrasi antara penambangan bijih nikel dan fasilitas pengolahan HPAL/RKEF membantu mendukung pasokan bahan baku. Kepemilikan saham pada HPL, ONC, dan KPS juga memungkinkan NCKL memperoleh bagian laba dari kegiatan pemrosesan dan pemurnian nikel.

02. Kemitraan Internasional dan Diversifikasi Penjualan

Hubungan komersial dengan pelanggan global seperti Glencore, Lygend Resources, dan Minmetals mendukung akses pasar internasional. Meski demikian, besarnya kontribusi sejumlah pelanggan perlu terus dipantau untuk menilai konsentrasi pendapatan.

03. Permodalan dan Likuiditas

Total ekuitas konsolidasian sebesar Rp55,99 triliun dan saldo kas serta bank Rp6,13 triliun memberikan gambaran posisi keuangan perusahaan per 30 September 2026. Evaluasi lebih lanjut tetap perlu memperhatikan kewajiban, kebutuhan belanja modal, arus kas, serta rencana ekspansi.

Kesimpulan Analisis Fundamental

Berdasarkan data 9M 2026 dalam naskah laporan, NCKL memperlihatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 19,93% dan peningkatan laba bersih pemilik induk sebesar 34,80%. Produksi bijih nikel juga meningkat 26,28%, sementara bagian laba entitas asosiasi naik 62,22%.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan secara bersamaan:

  • Beban pokok penjualan tumbuh lebih cepat daripada pendapatan, sehingga laba bruto turun 8,56%.
  • Kontribusi laba entitas asosiasi semakin penting bagi pertumbuhan laba konsolidasian.
  • Pendapatan dari pihak berelasi mencapai 39,37% dari total pendapatan konsolidasian.
  • Saldo kas dan arus kas operasi perlu dievaluasi bersama kebutuhan investasi, kewajiban, dan belanja modal.
  • Kinerja operasional yang tumbuh belum dengan sendirinya menunjukkan bahwa valuasi saham sudah murah.

Apa yang Perlu Dipantau Investor?

Untuk mengevaluasi NCKL secara lebih menyeluruh, investor dapat memantau perkembangan harga nikel, biaya produksi dan royalti, margin laba bruto, kontribusi entitas asosiasi, arus kas operasi, serta realisasi ekspansi dan belanja modal.

Keputusan investasi sebaiknya juga mempertimbangkan valuasi saham berdasarkan harga pasar terkini, prospek laba, risiko industri, dan margin of safety.

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan angka dan informasi dalam naskah laporan yang menjadi sumber penulisan. Data, angka, dan ketentuan yang disebutkan perlu dicocokkan dengan laporan keuangan resmi serta dokumen keterbukaan informasi perusahaan sebelum digunakan sebagai dasar keputusan investasi.

Disclaimer: Informasi ini hanya untuk tujuan edukasi dan analisis, bukan ajakan membeli atau menjual saham. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing investor.

BACA JUGA